Lakpesdam NU Mesir
Strategi Menghabisi Terorisme dan Radikalisme Sampai Akarnya PDF Cetak E-mail
Oleh Muhammad Amrullah   
Jumat, 23 Maret 2012 13:11

Apresiasi sebesar-besarnya atas kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Republik Federal Jerman untuk mengatasi terorisme. Dengan kerja sama ini, maka seminar internasional bertema ‘Peran Ulama Pesantren dalam Mengatasi Terorisme Global’ pun terwujud pada tanggal 16-18 Maret 2012 kemarin. Diantara nilai esensial yang mengemuka dalam seminar ini adalah pernyataan B. J. Habibie (Presiden ke-3 Indonesia), bahwa: “Penanganan terorisme tidak bisa dilakukan seperti menghadapi ancaman pertahanan dan keamanan klasik konvensional, akan tetapi dibutuhkan pendekatan, pemikiran, dan strategi baru dan canggih […] (NU Online 17/03/2012).

Merespon lompatan NU di atas, maka tulisan ini hadir sebagai bentuk penawaran pendekatan, pemikiran dan strategi yang—walaupun mungkin tak semuanya baru—nantinya bisa turut memberi wacana solutif atas merebaknya terorisme belakangan ini. Sebab bagi penulis, untuk menghabisi terorisme dan radikalisme memang merlukan pendekatan, pemikiran serta strategi yang cerdas, komprehensif dan integratif. Pun diperlukan keterlibatan dan peran banyak pihak, baik di tingkat nasional, regional maupun global.

LAST_UPDATED2
 
Laporan Bedah Buku Hadâiq Al-Ahzân Karya Musthafa Labbad PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 19 Maret 2012 14:18

Sebagai sebuah Negara Republik Islam, Iran (Persia) menjadi potret yang unik dari citra suatu peradaban manusia. Mengingat mengkaji Iran, sebagaimana disinggung Musthafa Labbad, berarti mengkaji sebuah peradaban yang mempunyai banyak wajah. Ada keunikan tersendiri, baik secara tradisi, sejarah filsafat, hingga nalar irfâniy (sufism) yang mereka miliki. Hal ini tentunya juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pengkaji Iran, mulai dari analisa agama, politik, hingga kebudayaan di dalamnya. Karena selama ini, analisa yang hadir, terutama terkait sekte Syi`ah, masih cenderung berpijak pada nilai-nilai doktrinal ketika mendekatinya. Seolah ada semacam ketegangan yang tidak bisa dijembatani, sehingga pembacaannya tidak bisa hadir secara objektif. Hal ini jelas terlihat sebagaimana isu sekte Syi`ah yang marak diperbincangkan di Indonesia masih berkutat pada paradigma doktrin Syi`ah-Sunni secara parsial.

LAST_UPDATED2
 
Moderatisme; Sengketa Identitas dalam Ruang Limbo (?) PDF Cetak E-mail
Oleh Fahmy Farid Purnama   
Minggu, 18 Maret 2012 22:31

 

‘SATU’ tak selamanya baik buat manusia. Bilangan itu terlampau berbatas untuk didaku seluruh umat manusia seutuhnya

 Identitas, bagaimanapun juga selalu memendam muatan enigmatik. Ia sesekali waktu bagai topeng tanpa kerutan tegas-menegas, apalagi relief yang jelas, terkaburkan atau sengaja dikaburkan. Tapi di lain waktu justru bisa menjelma lakon dalam suatu peranan yang menjadikan sesiapa itu dikenal, walaupun senyatanya tak pernah tuntas. Ia adalah entitas yang selalu bergerak, entah maju atau bahkan mundur, sering pula tidak memiliki kejelasan arah yang pasti. Berpijak dari sini, ada semacam muatan-muatan penting dalam sebuah laku identitas, namun sekaligus memendam problematisnya tersendiri. Sebegitu penting sekaligus problematisnya identitas ini telah menjadikannya patut untuk dibaca secara ‘hati-hati’. Karena bagaimanapun juga, bahkan sedari awal, setiap bentuk perjuangan manusia boleh jadi hanya sebatas proses mempertegas identitas belaka, tidak lebih. Dalam hal ini, mula-mula identitas menampak dalam potret yang teramat lugu, lalu sesaat seketika mendadak konyol. Tak heran, banyak catatan sejarah menjadi saksi bisu hadirnya juta angkara atas nama identitas itu, pun akhirnya nyawa hanya seharga ‘AKU’ saja.

Terkait identitas ini, lebih dahulu bisa kita tarik garis analisa secara linear bahwa pada prinsipnya manusia cenderung berkelompok dengan berpijak pada persesuaian prespektif, atau paling tidak hadir semacam kebermungkinan itu. Sebagian besar, dalam bentangan cakrawala sejarah manusia yang biasa kita sebut peradaban, paradigma dasar kelompok itu terbilang eksklusif dalam identitas yang kaku. Di sisi lainnya hadir pula semacam dorongan untuk saling mendominasi, lalu jikapun memungkinkan menyerap cakrawala kebudayaan dalam batas pemaknaan normalitatif yang mampu diabstraksi, atau sebagai laku yang terbahasakan.

LAST_UPDATED2
 
Bedah Buku Hadaiq al-Ahzan Musthafa Labbad PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 06 Maret 2012 11:44
Bagaimana sejatinya memahami sistem perpolitikan di Iran? Musthafa Labbad dalam bukunya Hadâiq al-Ahzân: Irân wa Wilâyat al-Faqîh, berpandangan, tidak mungkin mengetahui sistem perpolitikan di Iran tanpa “masuk” ke beberapa aspek pembahasan penting tentang Wilayat al-Faqih—konsep yang mampu bertahan selama lebih dari seperempat abad. Di buku ini dijelaskan pula pondasi historis, teologis, dan pemikiran munculnya konsep Wilayat al-Faqih, serta alur logis perpindahan kepemimpinan dari pionir (muassis) pada pengganti (khalifah). Musthafa Labbad telah menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyibak “relasi-relasi” tersebut dalam buku Hadâiq al-Ahzân.

Buku ini terdiri dari lima pembahasan penting: pertama, akar historis Syi’ah serta relasi para Juris (fuqahâ’) dan Negara Iran; kedua, ulasan terhadap konstruk dan pemaknaan Wilâyat al-Faqîh, serta kemunculan teori dan peran Khumaini dalam pengembangannya; ketiga, pendedahan alur logis Wilâyat al-Faqîh hingga sampai ke puncak kekuasaan dengan memenangkan pelbagai kecenderungan lain; keempat, perpindahan kekuasaan dari Imam Khumaini pada Sayyid Khumene’i serta implikasinya terhadap teori dan sistem politik Iran; kelima, peran Ayatullah Khatami terhadap perkembangan pemahaman keagamaan di Iran.  

Lakpesdam Mesir hendak membedah buku ini pada hari Jum’at, 9 Maret 2012, selepas Ashar di Sekretariat PCINU Mesir. Judul lengkap buku ini adalah Hadâiq al-Ahzân: Irân wa Wilâyat al-Faqîh, karya Musthafa Labbad. Bagi yang berkesempatan untuk hadir dan bergabung diskusi, kami membuka kesempatan selebar-lebarnya

http://www.facebook.com/notes/lakpesdam-mesir/undangan-bedah-buku/10150725812041081
 
Jaring-Jaring Pendidikan PDF Cetak E-mail
Oleh Oleh: M. Nova Burhanuddin, Lc   
Senin, 05 Maret 2012 21:06

ما من آية في كتاب الله تعالي ولا كلمة في الوجود إلا ولها ثلاثة أوجه جلال وجمال وكمال. فكمالها معرفة ذاتها وعلة وجودها وغاية مقامها.

وجلالها وجمالها معرفة توجهها على من تتوجه عليه بالهيبة والأنس والقبض والبسط والخوف والرجاء.

ابن عربي

Tiada satu ayat pun dalam Kitabillah, tiada pula satu kata dalam wujud kecuali pasti memiliki tiga sisi: keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Kesempurnaannya adalah mengetahui dzatnya, ‘illat wujudnya dan puncak maqamnya. Sementara keagungan dan keindahannya adalah mengetahui orientasinya terhadap person yang dihadapi dengan karisma dan grapyak, penyempitan dan perluasan, takut dan harap.”

Ibn ‘Arabi

 

Pendidikan sebagai langkah transmisi ilmu, pengetahuan dan nilai meniscayakan tiga elemen penting yang merupakan turunan dari tiga pondasi dasar. Tiga elemen penting itu adalah pendidikan, pendidik, dan anak didik. Sementara tiga pondasi dasar itu adalah al-wujûd, al-barzakh, dan al-‘âlam. Pendidikan sebagai sebuah simbol kehidupan tercitrakan dari konsepsi al-wujûd itu sendiri. Landasan konsepsi itu adalah kelaziman al-wujûd yang berelasi dengan al-‘âlam melalui al-barzakh. Relasi ini melingkupi segala hal, segala aktivitas, segala kemungkinan, segala detil dan segala sesuatu. Pendidikan sebagai simbol transmisi ilmu, pengetahuan dan nilai tentu saja masuk dalam segala ini.  Pendidik sebagai simbol al-barzakh lantaran menjadi perantara antara al-wujûd sebagai sumber aktivitas pendidikan dan al-âlam sebagai objek pendidikan. Sementara anak didik sebagai simbol al-‘âlam lantaran merupakan objek transmisi dan lahan interaksi terhadap laku pendidikan dalam relasinya dengan pendidik dan anak didik.

 

Buku

cover55
Majalah Afkar edisi 55 "Islam Pasca Kolonial".
Diskursus : Harya Bhisma
Wawancara : Dr. Hasan Hanafi
Opini : M. Suud Ibnu Aqil
 
nuansa 2010
Jurnal Nuansa PCINU Mesir
Mendedah Metodologi Kontemporer
Serta Aplikasinya Dalam Membaca Tradisi

Informasi

 

Diskusi Pemikiran Abdul Wahhab al-Mashiri

Jumlah Pengunjung

70179
Hari iniHari ini220
KemarinKemarin451
Minggu iniMinggu ini2905
Bulan iniBulan ini7393
JumlahJumlah70179

Pesan Singkat



Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h62417/sites/lakpesdam.numesir.com/www/modules/mod_news_show_gk3/mod_news_show_gk3.php on line 25

Strategi Menghabisi Terorisme dan Radikalisme Sampai Akarnya

Apresiasi sebesar-besarnya atas kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Republik Federal Jerman untuk mengatasi terorisme. Dengan kerja sama ini, maka seminar internasional bertema ‘Peran Ulama Pesantren dalam Mengatasi Terorisme Global’ pun terwujud pada tanggal 16-18 Maret 2012 kemarin. Diantara nilai esensial yang mengemuka dalam seminar ini adalah pernyataan B. J. Habibie (Pres...

Moderatisme; Sengketa Identitas dalam Ruang Limbo (?)

  ‘SATU’ tak selamanya baik buat manusia. Bilangan itu terlampau berbatas untuk didaku seluruh umat manusia seutuhnya  Identitas, bagaimanapun juga selalu memendam muatan enigmatik. Ia sesekali waktu bagai topeng tanpa kerutan tegas-menegas, apalagi relief yang jelas, terkaburkan atau sengaja dikaburkan. Tapi di lain waktu justru bisa menjelma lakon dalam suatu peranan yang menjadikan se...

Jaring-Jaring Pendidikan

ما من آية في كتاب الله تعالي ولا كلمة في الوجود إلا ولها ثلاثة أوجه جلال وجمال وكمال. فكمالها معرفة ذاتها وعلة وجودها وغاية مقامها. وجلالها وجمالها معرفة توجهها على من تتوجه عليه بالهيبة والأنس والقبض والبسط والخوف والر...

Film Tanda Tanya; Laku Toleran-Pluralis

“ … Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buat saya adalah hal yang indah… karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agama yang berbeda…”. [Menuk] Awalnya Beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengajak penulis memutar film “?” (Tanda Tanya) di sekretariat PCINU Mesir. Kesan selepas itu, film ini berhasil menyajikan konteks “yang seharusnya” t...

Penolakan FPI, Toleransi Dan Relevansi "Kafir Harbi"

Penolakan masyarakat Dayak terhadap FPI yang hendak membuka cabang di Kalimantan Tengah adalah sikap tegas yang patut diapresiasi. Bahwa Indonesia menjamin kebebasan warganya untuk berorganisasi dan membolehkan setiap organisasi untuk membuat cabang, memang betul—tentunya dengan catatan, selama aktivitas sebuah organisasi tidak mengarah pada aksi anarkis. Faktanya jika melihat aksi-aksi anarkis...

More in: Artikel


Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h62417/sites/lakpesdam.numesir.com/www/modules/mod_news_show_gk3/mod_news_show_gk3.php on line 25

Nalar Islam Politik; Tinjauan Geneologis Historis[1]

News image

Oleh: Abdul Mun’im Kholil[2] Prolog Idealisme dan realitas seringkali tak menampilkan wajah yang sama. Islam cita-cita mewangi dan mengandung nilai etis yang agung, sementara Islam sejarah—sebagai manifestasi realita sesungguhnya— terkadang membuat kita terdiam, tercengang, tak percaya. Islam yang memiliki adagium abadi sebagai agama “rahmatan lil ‘alamîn” cenderung digeret ke area ke...

Antara Romansa Heritage dan Pesona Modernitas; Wacana Revisi Turâts Dalam Prespektif Taha Abdurrahman

News image

Sesungguhnya penilaian yang berkutat pada kandungan umum teks turâts (warisan-tradisi, heritage, patrimoine, legacy) dan sama sekali abai terhadap pendekatan linguistik dan mantiq (logika) yang membentuknya, hanya akan menjerumuskan pada pandangan fragmentaris terhadap turats -Taha Abdurrahman-[1] Sebuah Cakrawala Turâts (tradisi) selalu menjadi problematika tersendiri dalam tatanan kehidupan m...

Fenomenologi Pemikiran Arab Islam

News image

Semakin merasa “lemah” seorang hamba, semakin kuat pula keinginan untuk “memuji”. Akhirnya bentuk penghambaan terhadap Tuhan bermetamorfosa menjadi penghambaan terhadap penguasa. Kekuasaan agama teralih –secara tak sadar—pada kekuasaan politik [Hassan Hanafi] Oleh: Ahmad Hadidul Fahmi Prolog Wacana keislaman yang berkembang sekarang masih saja berkutat pada bagaimana menghadapkan Islam...

SABDA HERMENEUTIKA [Telaah Humanis Inovasi Arab-Islam]

News image

“Like practical philosophy, philosophical hermeneutics stand beyond the alternatives of transcendental reflection and empirical-pragmatic knowledge. In the end it was the great theme of the concretization of the universal that I learned to think of as the basic experience of hermeneutics, and so I entered once again the neighborhood of the great teacher of concrete universality.”  [Hans-G...

Membumikan Gagasan Ibn Khaldun (Sebuah Pembacaan atas Konsep Sosiologi dan Filsafat Sejarah)

News image

Menimbang Epigonisme dengan Empirisme Religius Asumsi yang melekang kuat dalam benak masyarakat muslim selama berabad-abad adalah selepas runtuhnya Baghdad karena serangan bangsa Mongol, peradaban Islam menjadi mundur dan hancur. Peradaban Islam, baik di Timur maupun Barat, bergerak turun menuju titik nadir. Cerita kegemilangan dan optimisme sarjana raksasa Islam Klasik menguap. Berganti menjadi p...

More in: Makalah

Copyright © 2012 Lakpesdam NU Mesir. All rights reserved.